Cemetoto – Dalam acara StrictlyVC yang diadakan di Los Angeles beberapa waktu lalu, diskusi menarik terjadi antara pendiri Shinkei Systems, Saif Khawaja, dan mitra Founders Fund, Delian Asparouhov. Fokus perbincangan mereka adalah pertanyaan yang jarang muncul dalam acara investasi: bagaimana mengetahui apakah ikan mengalami stres? Ini menarik karena Shinkei memang mengembangkan teknologi untuk menjawab isu tersebut.
Shinkei telah menciptakan sebuah robot berukuran kulkas bernama Poseidon yang digunakan oleh para nelayan. Robot ini dilengkapi dengan teknologi visi komputer untuk memindai ikan, mengidentifikasi spesiesnya, dan secara otomatis membunuh ikan tersebut dengan memotong otak dan insang. Meskipun metode ini terkesan tidak manusiawi, Khawaja menekankan bahwa cara ini lebih baik dibandingkan dengan proses konvensional yang dapat menyebabkan ikan mengalami stres dan kematian yang lama.
Inovasi Dalam Industri Perikanan
Teknik yang digunakan oleh Shinkei merupakan versi otomatis dari metode tradisional Jepang yang dikenal sebagai ikejime, yang telah ada selama berabad-abad. Metode ini diyakini dapat memperpanjang umur simpan ikan dan meningkatkan rasa, karena darah ikan dapat dikeluarkan dengan cepat setelah dibunuh. Tujuan utama dari inovasi ini adalah untuk memberikan kualitas terbaik pada produk perikanan, terutama dalam industri sushi dan sashimi, yang sangat mengutamakan kesegaran dan rasa.
Khawaja mengungkapkan bahwa ide untuk mendirikan Shinkei muncul saat ia membaca esai tentang hak hewan semasa kuliah. Perusahaan ini tidak hanya fokus pada cara membunuh ikan, tetapi juga telah memperluas ke ambisi yang lebih besar dengan menjadi produsen dan pengolah ikan yang terintegrasi secara vertikal. Mereka memberikan mesin Poseidon secara gratis kepada nelayan dan membayar harga premium untuk ikan yang ditangkap menggunakan teknologi tersebut.
Model Bisnis yang Berbeda
Shinkei mengambil langkah yang tidak biasa dengan memiliki seluruh proses dari penangkapan, pemrosesan, hingga distribusi di bawah satu atap di Tacoma, Washington. Semua ikan yang ditangkap oleh nelayan akan diolah dan dijual di pabrik mereka dengan merek konsumen bernama Seremoni, dengan klaim produk mereka sebagai ikan “grade upacara” yang menjanjikan kualitas tinggi. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan nilai lebih pada hasil tangkapan para nelayan dibandingkan dengan harga pasar yang biasa.
Dari perspektif pasar, Shinkei telah berhasil memasarkan produk mereka di toko-toko desainer seperti Erewhon, yang terkenal di kalangan influencer. Mereka menjual ikan Shinkei dengan label “Miso Black Cod Grade Seremoni”. Namun, keberhasilan ini masih dalam tahap awal, dengan rencana yang lebih luas tergantung pada penjualan yang baik.
Tantangan yang Dihadapi Shinkei
Meskipun inovasi ini menjanjikan, tantangan tetap muncul. Khawaja mengakui bahwa masalah utama dalam industri perikanan AS adalah tingginya tingkat kerugian produk akibat pembusukan. Menurutnya, sekitar 18% ikan hilang hanya dalam perjalanan dari dermaga ke toko. Selain itu, sebagian besar ikan yang ditangkap oleh kapal AS dikirim ke luar negeri untuk diproses sebelum kembali dijual di AS, yang seringkali melibatkan praktik kerja yang kontroversial.
Ada dorongan dalam industri untuk membawa kembali pengolahan ikan ke AS, terutama setelah tarif dan gangguan akibat pandemi. Shinkei berharap dapat membuktikan bahwa proses terintegrasi yang mereka tawarkan dapat bersaing dengan praktik yang ada saat ini.
Kesimpulan dari Perkembangan Berita Ini
Proyek Shinkei menarik perhatian karena keberaniannya mengubah cara tradisional dalam industri perikanan dengan teknologi yang inovatif. Meskipun memiliki banyak tantangan, baik di tingkat operasional maupun pasar, model bisnis mereka yang terintegrasi dan fokus pada kualitas berpotensi mendefinisikan ulang standar dalam pengolahan ikan di pasar. Apakah pendekatan yang berfokus pada kesejahteraan hewan ini akan mendapat sambutan positif dari konsumen, waktu yang akan menjawab. Inovasi seperti Shinkei mungkin menjadi titik awal bagi perubahan lebih besar dalam industri perikanan global.
+ Ikuti Update









